DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pendirian Dinasti Abbasiyyah
B.
Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah
C.
Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyah
D.
Peradaban Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dinasti Abbasiyah adalah salah satu dinasti besar yang membawa kemajuan
pesat dalam perkembangan dan peradaban sejarah islam. Dinasti tersebut merupakan
keturunan langsung keluarga Nabi Muhammad SAW. yaitu dari garis keturunan paman
beliau yaitu Abbas. Banyak hal dapat diteladani dari sejarah pada masa Abbasiyah
dan banyak pula peninggalan-peninggalan dari dinasti tersebut yang masih ada
sampai saat ini.
B. Rumusan Masalah
1.
Siapa tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah?
2.
Bagaimana pola pemerintahan Dinasti Abbasiyah?
3.
Dimana saja hasil ekspansi wilayah pada masa Dinasti
Abbasiyah?
4.
Bagaimana peradaban islam pada saat Dinasti Abbasiyah?
5.
Bagaimana kemunduran Dinasti Abbasiyah?
C. Tujuan
1.
Mengetahui tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah
2.
Mengetahui pola pemerintahan Dinasti Abbasiyah
3.
Mengetahui wilayah hasil ekspansi pada masa Dinasti
Abbasiyah
4.
Mengetahui peradaban islam pada saat Dinasti Abbasiyah
5.
Mengetahui kemunduran Dinasti Abbasiyah
BAB II
PEMBAHASAN
|
SEJARAH
PERADABAN
DINASTI ABBASIYAH
|
|
Pendirian Dinasti
Abbasiyyah
|
|
Pola Pemerintahan
|
|
Peradaban Islam pada Masa Dinasti
Abbasiyah
|
|
Ekspansi Wilayah
|
A.
|
Abu
Ja’far Al Mansur
|
|
Ali
Bin Abdullah
|
|
Muhammad
Bin Ali
|
|
Abu
Muslim Al Khurasani
|
|
Abu
Abbas As Safah
|
|
Ibrahim
Al Muhammad
|
|
Tokoh
Yang Berjasa Dalam Pendirian Dinasti Abbasiyah
|
Dinasti Abbasiyyah yang
didirikan pada tahun 132 H (750 M) oleh beberapa pelopor pendiri yaitu, Abu
Abbas As Safah, Abu Ja’far Al Mansur dan Abu Muslim Al Khurasani merupakan
kelanjutan dari pemerintah Dinasti Umayah yang telah hancur di Damaskus.
Perjuangan nan panjang bermula dari perjuangan Ali Bin Abdullah kakek Abu
Abbas As Safah yang melakukan propoganda anti pemerintahan umayyah, beliau
mendidik kader-kader dakwah yang hebat namun, perjuangannya berakhir karena
beliaau wafat pada tahun 124 H/ 742 M. Perjuangannya diteruskan oleh putranya
yaitu Muhammad Bin Ali yang melakukan hal sama dengan ayahnya namun,
perjuangannya juga berakhir karena dia wafat pada tahun 127 H/ 745M sebelum Dinasti
Abbasiyah terbentuk. Sepeninggal Muhammad Bin Ali, putranya Ibrahim Al Muhammad
meneruskan propaganda lebih dahsyat dan mendapat dukungan yang lebih kuat dari
golongan syiah. Mengetahui hal tersebut, Marwan II yaitu khalifah terakhir
umayyah memerintahkan untuk menangkap Ibrahin Al Muhammad dan membunuhnya pada
tahun 128 H/ 746 M. Hal itu memicu kemarahan sodaranya Abu Abbas As Safah dan
Abu Ja’far Al Mansur. Dengan dibantu Abu Muslim Al Khurasani mereka bersatu
menggulingkan pemerintahan umayyah dengan menyerbu dan membunuh khalifah
umayyah terakhir yaitu Marwan II yang menjadi tanda berakhirnya Dinasti
Umayyah.
Dinamakan ke khalifahan Abbasiyah, karena para pendiri dan penguasa
Dinasti ini merupakan keturunan Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Kerajaan
Abbasiyyah muncul setelah Pemerintahan Dinasti Umayyah hancur, mereka semua berjuang
bersama unutk menetang Dinasti Umayyah dengan harapan akan dapat menyandang
jabatan khalifah yang mereka anggap sebagai milik mereka yang telah dirampas
oleh Dinasti Umayyah yaitu keturunan Muawiyah Bin Abu Sofyan.
B. Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah
Daulah Dinasti Abbasiyyah memiliki corak pemerintahan Arab murni namun
juga telah terpengaruh corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur,
Mesir, bahkan Yunani. Khalifah merupakan penguasa tertinggi dalam struktur
Pemerintahaan Dinasti Abbasiyyah. Semua perintah berpusat kepada khalifah.
Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan
berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Dinasti
Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari
Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada
zaman Khaulafahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah
Al-Mansur “Saya adalah sultan, Tuhan diatas buminya “. Pada zaman Dinasti
Dinasti Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda–beda sesuai dengan
perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan
oleh Daulah Dinasti Abbasiyah antara lain :
1. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para pejabat
bisa berasal dari keturunan mawali.
2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi
pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.
3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting
dan mulia.
4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.
5. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk
menjalankan tugasnya dalam pemerintah.
Selanjutnya periode II , III , IV,
kekuasaan Politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan
politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan
kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat, kecuali pengakuan politik
saja. Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya, dan mereka telah
mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya
daulah-daulah kecil, contoh; daulah Dinasti Umayyah di Andalusia atau Spanyol
dan Daulah Fatimiyah.
Untuk membantu Khalifah dalam menjalankan
tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama “diwanul kitaabah”
(sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang “raisul kuttab” (sekretaris
negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa
“raisul diwan” (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat
sentralistik yang dinamakan An-Nidhamul Idary Al-Markazy. Selain itu,
dalam zaman Dinasti Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara,
baitul maal, organisasi kehakiman. Selama Dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial, ekonomi dan budaya.
C. Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyah
Pada masa Daulah Abbasiyyah luas wilayah kekuasaan
islam semakin bertambah dan Baghdad sebagai pusat pemerintahannya. Perluasan
kekuasaan dan pengaruh wilayah kekuasaan islam amat luas yaitu meliputi wilayah
yang telah dikuasai oleh Yordania, Palestina, Libnon, Mesir, Tunisia, Aljazair,
Maroko, Spanyol, Afganistan dan Pakistan. Daerah-daerah tersebut memang belum
sepenuhnya berada diwilayah Dinasti Umayah,
namun dimasa kekuasaan dinasti Abbasiyah
perluasan daerah dan penyiaran islam semakin berkembang, sehingga meliputi
daerah Turki, Armenia, dan sekitar Laut Kaspia.
D. Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintahan Dinasti Abbasiyah mampu
mengembangkan dan memajukan peradaban islam, sehingga dinasti
ini mencapai puncak kejayaannya. Karena para penguasanya banyak
memberikan dorongan kepada para ilmuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
dalam segala bidang kehidupan.
Kemajuan itu antara lain disebabkan sikap dan kebijaksanaan para
penguasanya dalam mengatasi berbagai persoalan. Berkat usaha khalifah yang
sungguh-sungguh dalam membangun ekonominya, mereka memiliki perbendaharaan yang
cukup berlimpah. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan para khalifah banyak
mendukung perkembangan tersebut sehingga banyak buku-buku yang dikarang dalam
berbagai ilmu pengetahuan. Beberapa khalifah yang berhasil mecapai puncak
kejayaannya antara lain:
1.
Abdul Abbas As-Saffah (750-754 M)
2.
Abu Ja’far Al Mansyur (754 – 775 M)
3.
Abu Abdullah M. Al-Mahdi Bin Al Mansyur (775-785 M)
4.
Abu Musa Al-Hadi (785-786 M)
5.
Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid (786-809 M)
6.
Abu Musa Muh. Al Amin (809-813 M)
7.
Abu Ja’far Abdullah Al Ma’mun (813-833 M)
8.
Abu Ishak M. Al Muta’shim (833-842 M)
Bentuk-bentuk peradaban islam dimasa Dinasti Abbasiyah dapat
dibagi menjadi:
1. Kota-kota pusat peradaban
a. Baghdad
Merupakan kota
yang paling indah yang dikerjakan oleh lebih dari 100.000 pekerja dipimpin oleh
Hajaj Bin Artal, disini terdapat istana yang berada dipusat kota, asrama
pengawal, rumah kepla polisi dan rumah-rumah keluarga khalifah.
b. Samarra
Letaknya disebelah timur sampai tigris, 60 km dari kota Baghdad. Kotanya nyaman indah
dan teratur.
2. Bengunan bangunan
a. Madrasah
Didirikan pertama kali oleh Nizamul Mulk.
Terdapat dikota Baghdad, Balkan, Muro, Tabrisan, Naisabur, Hara, Isfahan,
Mausil, Basrah dan kota lainya.
b. Kuttab
Yaitu tempat
belajar bagi pelajar tingkat rendah dan menengah.
c. Masjid
Biasanya digunakan
untuk tempat belajar tingkat tinngi dan tahkasus.
1) Masjid raya Cordova. Dibangun pada tahun 786 M
2)
Masjid
Ibnu Toulon di Kairo dibangun pada tahun 786 M
d. Majelis Munadhoroh
Tempat pertemuan para pujangga, ahli faqir
dan para sarjana untuk menseminarkan masalah-masalah ilmiah.
e. Baitul Hikmah
Merupakan perpustakaan pusat, dibangun oleh
khalifah Harun Ar-Rasid
f. Istana Alhamra di Cordova dan Istana Al Cazar dan lainnya.
3. Penemuan dan tokohnya
a. Ilmu filsafat
1)
Al Kindi
(185-260 H)
2)
Abu
Nasr Al Farabi (258-339 H) orang Eropa menyebut dengan Alpharabius.
3)
Ibnu
Bajah (wafat tahun 533 H)
4)
Ibnu
Thufail (wafat tahun 581 H)
5)
Ibnu
Sina (370-428 H) orang Eropa menyebut dengan Avicena. Kitabnya yang terkelah
Qonun Fi Al Tibb.
6)
Al
Gazali (1059-1111 M) ia digelari sebagai hujjatul islam.
7)
Ibnu
Rusyd (520-595 H) orang Eropa menyebutnya dengan Averos.
b. Bidang kedokteran
Para dokter dan
ahli kedokteran islam yang terkenal antara lain:
1) Jabir Bin Hayyan (wafat tahun 161 H) dianggap sebagai bapak
ilmu kimia.
2) Hunain Bin Ishaq (194-264 H) ahli mata yang terkenal.
3) Tabib Bin Qurra (221-228 H)
4) Ar Razi (251-313 H)
c.
Bidang
Matematika
1)
Umar
Al Farukhan, insinyur arsitek pembangun kota Baghdad
2)
Al
Khawarizmi, pengarang kitab Al Gibra( Al Jabar) ahli metematika terkenal, juga
penemu angka 0, sedang kan angka 1-9 dari india namun dikembangkan olehnya yang
terkenal dengan nomor arab.
3)
Banunusa
menulis banyak buku dan ilmu ukur.
d. Bidang Astronomi
1) Al Fazari, seorang pencipta astro labe yeitu alat ukur tinggi
dan jarak bintang-bintang
2) Al Batani, lebih dikenal dibanding dengan Al Khawrizmi dalam
ilmu perbintangan.
3) Al Farghoni, membanguun beberapa obrervatorium di Baghdad
maupun di Yundi Shabur.
e. Farmasi dan Kimia
1) Ibnu Baithar, ahli obat-obatan makanan atau gizi.
f. Ilmu Tafshir
Pada masa ini
terdiri dari:
1) Tafsir Bil Matsur
Yaitu al quran yang ditafsir kan dengan
hadis-hadis. Ahlinya Ibnu Jarir Al Thobari, Ibnu ‘Atiyah Al Andalusiy, Al
Suda’i berdasarkan tafsirnya kepada Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, Muqotil Ibnu
Sulaiman.
2) Tafsir Bil Ro’yi
Yaitu tafsir
alquran dengan menggunakan akal pikiran, para ahlinya Abu Bakar Asam, Abu
Muslim Muhammad, Ibnu Bahar Isthani, Ibnu Jaru Al Asadi dan Abu Yunus Abdus
Salam.
g. Ilmu Hadits
Merupakan sumber
hukum islam yang kedua setelah Al Quran pada masa Dinasti Abbasiyyah. Ahli-ahli
hadits yang ternama :
1) Imam al Bukhori Hasil karyanya yaitu Shohih Al Bukhori
2) Imam Muslim hasil karyanya yaitu Shohih Muslim
3) Ibnu Majjah hasil karyanya yaitu Sunan Ibnu Majjah
4) Abu Dawud hasil karyanya yaitu Sunan Abu Dawud
5) Annasai hasil karyanya yaitu Sunan Annasai
h. Ilmu Kalam
1) Jabbariyah dengan tokohnya Jahm Bin Soffyan, Ya’du Bin Dirhan
2) Qodariyah dengan tokohnya Ghilan Al Dimasyqy, Ma’bad Al
Juhaini
3) Mu’tazilah dengan tokohnya Wasil Bin Athoq
4) Alhu Sunnah dengan tokohnya Abu Hasan Al Asy’dan Al Ghazali
i. Ilmu bahasa
Bahasa arab
dijadikan sebagai bahasa pengetahuan, disamping sebagai komunikasi antar
bangsa. Beberapa ahli dalam bidang bahasa yaitu :
1)
Sibawaihi (wafat tahun 183 H)
2)
Al Kisai (wafat tahun 198 H)
3)
Abu Zakariya Al Farra (wafat tahun 208 H)
E. Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah yang pernah mencapai zaman keemasan dalam panggung
sejarah, mulai periode kedua kekhalifahan dinasti tersebut sebenarnya sudah
menandakan adanya kelamahan dan kemunduran, terutama dalam bidang politik dan
pemerintahan. Karena khalifah-khalifah yang memimpin masih termasuk khalifah
yang kuat, kemunduran tidak terjadi sekaligus, namun secara perlahan. Hal
terrsebut terjadi karena di awal proses pendirian dinasti abbasiyah tidak lepas
tangan dari pihak mawali persia maupu golongan pendukung ali yang seolah
meminta balas jasa atas andil mereka dalam membantu membentuk sebuah dinasti.
Disamping itu, ada bekas pejabat abbasiyah
yang dikarrenakan jasa tertentu mendapat suatu wilayah sehingga
menimbulkan perpecahan dan berdirinya dinasti-dinasti kecil dan memisahkan diri
dari Dinasti Abbasiyah. Faktor lainya adalah serbuan tentara mongol yang
dipimpin oleh Hulagu Khan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah
muncul setelah kehancuran Dinasti Umayyah. Banyak ibrah yang bisa kita ambil
dari Dinasti Abbasiyah, mulai dari kemajuan ilmu pengetahuan dan aspek kehidupan
lainya. Hal ini dipengaruhi karena perhatian khalifah terhadap ilmu pengetahuan
yang tinggi dan sikap menghargai karya sehingga memotivasi para ilmuan untuk
semakin memajukan bidang pengetahuan.
Daftar Pustaka
Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Al Husna Zikra : Jakarta, 2000
Sejarah
Kebudayaan Islam Kelas 12 Semester Ganjil. Akik Pustaka
As’ad, Mahrus. Ayo Mengenal Sejarah Kebudayaan Islam. Erlangga: Bandung, 2009
bagus banget mi
BalasHapusWhy does gambling gambling work at a casino? - Work
BalasHapusThe problem of gambling, or gambling for many people, is that the money you septcasino place is transferred to febcasino someone else's Gambling on a casino website is called งานออนไลน์ gambling.